Minggu, 14 Desember 2008

* END of the WORLD


End of the World
bu Moses Agustian.



Foto Original




Foto pemenang Medali Emas Salonfoto 1992 (PAF Bandung)

RIP
by Moses Agustian



Apa dan bagaimana...

Memanipulasi sebuah karya foto dapat dilakukan dengan dua versi :

Pertama.
Manipulasi dilakukan dengan rekayasa sedemikian rapi dan natural sehingga diterima sebagai kewajaran pemotretan oleh penikmat foto.
Tanpa sepengetahuan penikmat foto oleh pemotret atau pencetak foto telah memasukkan elemen tambahan lain yg biasanya agak agak dramatis bagi penguatan isi atau nuansa fotonya.

Kedua.
Penikmat foto benar benar tahu foto tersebut telah dimanipulasi dari segi tehnik maupun
ketidakwajaran objek akan tetapi menerimanya karena motivasi yg luar biasa dari citra seni pemotretnya.
Bahkan kadang kadang penikmat foto tersenyum dan berkata dalam hati," nikmat juga ya...., dibohongi !!!!

Versi terakhir inilah yg dipilih kali ini.
Marilah kita keluar sejenak dari kejenuhan tentang landscape natural dan memasuki alam pengembaraan khayal dengan Tone Line dari ortholith film sebagai media manipulasi.
Apakah itu Tone Line ? Tone Line adalah foto kontras tinggi dari ortho film yg hanya terdiri dari garis garis.
Apakah masih perlu ditulis tentang Tone Line yg sudah tidak zaman lagi dg ortholith film ?!!!

End of the World.

Mendengar suara bukan dari lidah juga bukan dari kerongkongan akan tetapi gema dan desau melantunkan lagu dari saat ke saat.
Gemuruh dikejauhan, gemercik ombak pantai , desau angin laut dan siulan batu karang menyanyikan himne angkasa, menyingkap tirai rahasia keabadian.


Pantai Kukup, Yogyakarta.

Hamparan pantai luas landai dengan batu karang seperti onggokan raksasa tidur yg jauh dari menarik untuk pemotretan.
Satu satunya yg agak menarik perhatian adalah permainan garis ombak pantai putih berlapis lapis dan panjang mengikuti lekuk panatai yg dipeluk pulau dikiri dan kanan.
Diatas panggung batu karang raksasa ini berdiri sebuah gardu yg penuh coretan.
Disinilah satu satunya tempat kami berteduh dari terik matahari.
Dari sini saya melihat kebawah pantai dan saya tidak menemukan satu manusia disana yg bisa dijadikan sebagai objek perbandingan dg luasnya pantai yg maha luas itu.
Kecuali ada seorang bapak dan anak anak yg sudah ada di gardu sebelum kami datang.
Setelah berupaya membidik kiri kanan pantai yg tampak kosong saya mencari sesuatu yg bisa dijadikan pengisi foto saya.
Sepotong kulit kayu 1,5m panjangnya dg lebar kira kira 30cm yg dapat mudah saya patahkan menjadi dua menurut urat kayu kemudian saya ikat dg tanaman merambat menjadi sebuah salib .
Dengan tidak berpengalaman " saya tancapkan salib kulit kayu kasar dipinggir batu karang yg membelakangi pantai" melukai tangan ku yg halus dari kota walaupun sudah berhati hati...heheheh.

Dan ku tatap salib kulit kayu yg buruk, tidak menarik sampai tampak keelokannya agar tujuan hunting tidak sia sia.
Kemudian mengatur pose dari bapak dan anak anak nya dalam pemotretan dan saya tidak suka konten fotonya walaupun bagus komposisinya.
Kubiarkan foto tersebut 5 tahun baru dikirim ke Salonfoto Ind 1992.. hasilnya medali emas....u kategori BW. Senang ...yayaya...gak gak...!!!!

Sungguh tidak seperti yg kuinginkan (lihat foto original) , jauh dari yg ku angankan... kulihat salib tsb dan kupejamkan mata ku sehingga semua visual menjadi gelap.....
Yang berbekas kuat dilayar imajiku hanya salib tsb dan khayal liar kulepas dan mengental se-olah olah bumi kiamat ditatap duka oleh rembulan dg tehnik Tone Line.

Objek.
Ada dua jenis tone line yaitu yg hi key dimana putih dominan dan saya memilih low key dimana hitam dominan dg garis putih.... kemudian disandwich dengan bulan.
Sesuai dg judul " End of the World " saya memilih versi low key sebagai media expresi dimana hitam mewakili ketenangan yg penuh misteri dan bulan sumber terangpun dimunculkan setengah seolah enggan tampil melihat bumi.
Pencahayaan pun dipilih searah dg sinar rembulan.... walaupun imaginatif pun harus juga memenuhi estetika..... Apakah saya dalam keaadan depresi saat membuat foto ini...???!!! Tidak.... tidak ... adapun niat saya mengajak penikmat foto turun kebawah sadar bahwa dunia bisa seperti ini jika tidak kita sayangi...hehehehehe. salam Cape deh.... sahabat baca artikel panjang ini....






3 komentar:

Sugeng Kuswardhana mengatakan...

Sense of Art- yang dipertunjukan dalam karya Om Moses baik yang "End of the world" dan peraih pemenang medali SFI " Rest in Peace" memang layak dpt Bintang... Inspiratif dan symbolik dan sarat makna


Salam BW
Sugeng.K

teweraut mengatakan...

Pak Moses, terimakasih bahwa ada orang seperti Anda di Indonesia. Yang melihat photo adalah KATA tanpa bunyi. Namun mampu menyampaikan kearifan, bukan dari pandangan kasat mata, namun memerlukan kebeningan batin RASA. Senang sekali ketemu Anda walau masih dalam dunia maya.

Moses Agustian ARPS, AFPSI mengatakan...

terima kasih mbak teweraut...atas kunjungannya.
tersanjung atas pujiannya.....hehehe GBU